Sunday, October 2, 2011

Perang Saudara di Negeri Bajingan

Di Negeri Bajingan aparat hukumnya sama juga di negeri lain di bumi. Ada polisi, ada jaksa, ada hakim dan ada pula pengacara. Tapi dasar di negeri bajingan, 90 persen mereka ini bajingan  semua. Semua yang mereka lakukan sebagai pejabat publik (kecuali pengacara) adalah demi uang dan kekuasaan. Pendek kata, setiap kegiatan yang mereka lakukan, kalau nggak ada nilai uang untuk pribadinya atau untuk partainya, nggak bakalan dikerjakan. Kalau ada pengaduan rakyat yang nggak ada uangnya pasti dicatat doang (walau si pengadu sudah bayar uang "catat"), dan disimpan aja di luar kepala. Berkasnya dibiarkan. Si pengadu? Biarin aja pusing sendiri. Emangnya gue pikirin..., kata si aparat.
Sementara itu di Negeri Bajingan orang baik-baik itu sebagian besar adalah orang-orang yang tidak peduli urusan bersama. Mereka lebih sibuk urus rumahtangganya masing-masing. Ada sibuk urus karir, sibuk urus bisnis, sibuk ibadah sendiri. Nggak ada yang peduli dengan kepentingan umum. Kalau ada yang coba-coba peduli membela kepentingan orang banyak, pasti akan dibilang "pahlawan kesiangan" lah, atau "ah, itu kan  LSM yang kurang kerjaan" lah.
Malangnya Negeri Bajingan itu adalah negeri yang subur dan kaya hasil bumi, kaya hasil tambang, namun rakyatnya miskin karena pejabatnya menjual kekayaan ini ke maling-maling pengusaha  di dalam negeri, dan juga perusahaan multinasional maling-maling yang dulunya menjajah negara-negara lemah.
Dengan aparat yang bajingan dan orang-orang baik yang tidak peduli inilah Negeri Bajingan semakin lama dan semakin pasti sedang menuju keruntuhan akibat perang saudara.

Tuesday, March 15, 2011

JUAL BUMN, JUAL ASET NEGARA : ENAK TAHU...!

Di Negeri Bajingan para pejabatnya adalah para "pengusaha" yang membisniskan segala hajat hidup orang banyak. Para pejabat ini selalu menganggap bahwa program pembangunan untuk rakyat adalah bisnisnya. Ketika menjadi calon jabatan tertentu, misalnya menteri, Ia sudah menawar-nawarkan proyek yang nanti akan ditangani jika sudah menjabat kepada pengusaha busuk. Sebaliknya, pengusaha busuk juga sudah menawarkan si calon untuk menggarap proyek yang nanti akan ditangani. Sehingga akhirnya setelah seorang menteri, gubernur, bupati dan lain-lain sudah lolos jadi pejabat maka proyeklah yang jadi perhatia besarnya. Sedangkan perhatian kepada kepentigan rakyat, pengabdiannya kepada negara, kejujurannya hanya bagian tugasnya nomor ke sekian.

Monday, February 7, 2011

Bang Sianturi : Sudah Jelas Mengencingi Hukum, Tapi Dibiarin...

Negara Bajingan sedang heboh masalah skandal di bang. Yang dimaksud "bang" di sini adalah lembaga penyimpan uang dan pengelola uang rakyat yang fungsinya mirip bank di Indonesia.
Alkisah, tahun 2009 Sebelum Masehi sebuah Bang, Namanya Bang Sianturi, sedang sakit berat dan sekarat karena duitnya digondol orang. Malangnya penggondol uang bang ini adalah pengelolanya sendiri bekerjasama dengan oknum aparat. Sehingga kerugian rakyat pemilik uang itu tak tergantikan karena pencoleng ini lihai menghindari hukum, sekaligus mengencingi keadilan.
Bobolnya uang rakyat di Bang Sianturi ini merupakan perencanaan matang yang dilakukan oknum aparat untuk meneruk uang negara dengan alasan melindungi stabilitas keuangan rakyat. Untuk alasan stabilitas keuangan rakyat itulah mereka membuat kebijakan untuk meneruk uang negara dengan dalih "menolong" bang ini agar tidak mati. Dengan "pertolongan" ini bang tersebut disuntik dengan dana 67 triliun dolar dari uang rakyat. Padahal uang ini dibagi-bagi untuk kelompok oknum-oknum ini untuk kepentingan pribadi, golongan, partainya dan untuk menyogok demi kepentingan ekseistensi mereka.